“arsitektur lahir dari kepentingan kaum bangsawan dan berkuasa, maka arsitektur tidak pernah melihat kebutuhan orang yang tidak mampu”. (Friedrich Nietzsche, Senjakala Berhala – Anti Krist ).
Bandung, 11 Agustus 2008 pukul 17.21 BBWI, sedang asik aku menonton berita sore di televisi sambil menikmati Tahu Sumedang oleh – oleh temanku sepulang dari luar kota, sebentar kemudian terdengar Adzan Maghrib berkumandang di Masjid sebelah kontrakan, aku berniat mengambil Wudlu untuk menunaikan Sholat Maghrib, ”mumpung lagi ingat sama Yang Kuasa” kataku dalam hati.
Selepas Sholat aku menyeduh sebungkus kopi instant, ketika rokok yang kunyalakan hendak dihisap, tiba – tiba HP ku berbunyi, sebuah SMS masuk, ”mang pss d mn? anak2 dah kmpl d t4 biasa, wjib dtg, klo gak…gw sumpahin kgk kwin2 seumur hdup!!!”, salah satu teman seangkatanku waktu kuliah pengirimnya. Antara malas dan penasaran aku memikirkan isi SMS tersebut, kumpul buat apaan ya? Tumben – tumbenan.
Akhirnya aku putuskan untuk datang, lagian kebayang kalau isi pesan bagian akhir tadi bener, sia – sia dong Tuhan ngasih aku alat kelamin kalau Cuma buat ”kencing doang”.
Setelah dua kali naik Angkot dengan ongkos yang…yaa bikin uang rokok kita seret, akhirnya sampai juga ditempat biasa kita kumpul.
”Mas, Nasgor satu, stelan biasa ye”, aku langsung memesan sepiring nasi goreng tanpa menyapa dulu anak – anak yang sudah kumpul ditempat. ”eh kunyuk, bukannya say hey dulu, maen nylonong pesen nasgor segala”, terdengar salahsatu dari mereka berteriak, ”ah, apa peduliku, bagiku lebih penting ngisi perut daripada teman hehehe…”.
Sambil makan, aku dan kawan – kawan seangkatan ngobrol ngalor – ngidul, pokoknya curhat abis lah, ada yang ngeluh masalah isterinya yang hobi belanja, ada yang nyumpahin mertuanya gara – gara sering nimbrung urusan rumah tangga, ada pula yang stress perkara kuliah belum kelar juga, dan pastinya hampir semuanya mengangkat permasalahan kerjaan dalam dunia Arsitektur.
”Saya bingung nih, udah berapa taun coba, saya kerja di konsultant itu, tapi gak ada sedikitpun penghargaan, baiknya ngundurin diri ato gimana yah…”, satu orang angkat bicara. ”Kalo kata gue sih, mending tonjok aja tu lo punya bos, biar ngerti, tar kalo didiemin terus makin gak mau tau soal nasib karyawannya”, ”wah, jangan sampe lah kalau solusinya kayak gitu, bisa – bisa makin runyam, aku sih nyaranin mending omongin secara baik – baik, aku yakin pasti hasilnya pun baik pula” seorang kawan yang paling kita tuakan memberi saran yang sangat bijaksana.
Obrolan pun berlanjut, tak terasa dua jam lebih sudah terlewati, dan bahasannya pun makin panjang lagi, soal mending memilih jadi Freelance Architect daripada kerja terikat, ada pula yang sesama teman seangkatan mendirikan Kontraktor Pelaksana, sampai masalah Owners yang pura – pura bego supaya uang perencanaan tidak dibayar Full, atau Owners yang terlalu campur tangan dalam hal desain.
Berbagai macam tingkah dan cara kawan – kawanku dalam permasalahan pekerjaan dan solusinya. Salah seorang dari mereka ada yang berprinsip yang penting desain kita keren, masalah pelaksanaan, kita kurangin aja sana – sini. Tapi, ada juga di antara kawanku itu yang lebih merasa aman menjadi PNS, walaupun nalurinya kadang merasa miris.
Aku…, apakah aku seorang Arsitek, bagiku itu tak penting, lagipula kuliah di jurusan Arsitektur bagiku hanya sebagai pelarian, daripada harus masuk di jurusan Tarbiah pilihan nenekku. Kadang aku merenung, setiap aku bertemu dengan kawan – kawan kuliah dulu, semakin aku mendengar hal – hal yang tidak nyaman dalam hal ber – Arsitektur, tentang si Arsitek yang harus tunduk kepada owners dan melepas idealismenya dalam mendesain, tentang berbuat curang demi keuntungan materi, tentang amplof sana – sini untuk mendapatkan proyek, tentang membuat desain asal jadi tanpa melalui analisa, dan tentang – tentang negatif lainnya, yang ketika kuliah dulu sering kita sumpahin tidak akan pernah melakukannya. Tapi, itulah realita, pilihannya, akankah kita berdamai, atau membenturkan diri dengan realita tersebut.
Dalam dunia kerja (dalam ber – Arsitektur pastinya), aku hanya menjadi pengamat dimata kawan – kawan, dan aku memang mengamati mereka. Seorang kawan yang ketika kuliah sangat mendewakan Frank Lloyd Wrigt karena teori Organisnya, tetapi sekarang dia telah lupa, lain pula dengan seorang kawan yang menganggap Jusup Bilyarta Mangunwijaya sebagai panutan, apa yang dia lakukan sekarang sangat jauh dari sikap Romo Mangun yang dalam ber – Arsitektur sangat Humanis.
Membaca kalimat Nietzsche diatas, aku berpikir, apakah Arsitektur muncul di muka bumi sebagai kesalahan, sehingga menghasilkan para arsitek yang sesat, ataukah Cuma segelintir Arsitek yang sengaja mengaburkan landasan ide tentang Arsitektur sebagai Lingkungan Binaan, atau Cuma di negara kita saja yang para Arsiteknya berbuat demikian, dikarenakan tidak adanya penghargaan terhadap profesi Arsitek?.
Secara sadar aku meyakini, bahwa Arsitektur bukan suatu kesalahan, tetapi secara realitas, aku juga tidak berhak memvonis kawan – kawan Arsitek yang sudah tidak berjalan dalam koridor yang benar.
Arsitektur adalah ilmu yang tanpa dibatasi oleh ruang, waktu dan pelaku. Tidak harus selalu kuliah di jurusan Arsitektur untuk ber – Arsitektur, tidak juga kuliah di jurusan Arsitektur harus menjadi seorang Arsitek, bagiku… setelah lulus dari jurusan Arsitektur, aku bisa menjadi apa saja, tetapi dengan menjadi apa saja tersebut, aku akan berusaha untuk tetap menjalankan kaidah – kaidah Arsitektur. Setuju atau tidak, itu urusan masing – masing kita, seperti sebuah pilihan yang pastinya setiap individu tidak akan sama, apapun itu dan siapapun kita.
Bandung, 10 Agustus 2008 – 01.45 BBWI
kamar kontrakan
ditemani secangkir kopi,
sebungkus A – Mild,
dan sepiring nasi kapau.